Feeds:
Pos
Komentar

* Anda sering Online di internet

* Anda sering cek Email

* Anda sering browsing

* Gunakan semua waktu anda di dunia Maya (Internet) untuk menghasilkan uang…. tertarik… Kunjungi Website http://www.bisnisurl.web.id/8888981722.r  atau langsung ke http://www.khalilaindy.com/index.php?option=com_content&view=section&layout=blog&id=12&Itemid=56 . Di sini terdapat kumpulan Paying Websites, yang sudah terbukti bisa menghasilkan uang dan terbukti membayar. Anda Cinta Rupiah? di sini tempatnya mendapatkan Rupiah dari Internet…

Iklan

Jual Handphone

Di Jual 3 buah Handphone bekas (1 Paket).

Sony Ericsson K700i

Siemens C55

Samsung SGH-X969

Untuk lebih jelasnya, silahkan kunjungi http://khalilaindy.com

Jual Tanah

Di Jual Tanah seluas 1000 m2, di daerah Joyoagung (Joyogrand) malang Jawa timur. Untuk lebih jelas nya, silahkan kunjungi http://khalilaindy.com

WaktuLuang.com - Waktunya Bikin Uang

Pintar Sapa?

Ketika seorang pengusaha sedang memotong rambutnya pada tukang cukur
yang
berdomisili tidak jauh dari kantornya, mereka melihat ada seorang anak
kecil berlari-lari dan melompat-lompat di depan mereka. Tukang cukur
berkata, “Itu Bejo, dia anak paling terbodoh di dunia”. Pengusaha itu
kemudian bertanya “Apa iya?”. Tukang cukur dengan
bersemangat “Mari… saya
buktikan!” Lalu, dia memanggil si Bejo, tukang cukur itu merogoh
kantongnya
dan mengeluarkan lembaran uang Rp 1000 dan Rp 500, lalu ia memanggil
bejo
dan berkata, “Bejo, kamu boleh pilih dan ambil salah satu uang ini,
terserah kamu mau pilih yang mana, ayo nih!”. Bejo pun melihat ke
tangan
Tukang cukur dimana ada dua lembaran uang Rp 1000 dan Rp 500, lalu
dengan
cepat tangannya bergerak mengambil lembaran uang Rp 500.

Tukang cukur dengan perasaan benar dan menang lalu berbalik kepada
sang
pengusaha dan berkata, “Benar kan yang saya katakan tadi, Bejo itu
memang
anak terbodoh yang pernah saya temui. Sudah tak terhitung berapa kali
saya
lakukan tes seperti itu tadi dan ia selalu mengambil uang logam yang
nilainya paling kecil”.

Setelah sang pengusaha sudah selesai memotong rambutnya, di tengah
perjalanan pulang dia bertemu dengan Bejo. Karena merasa penasaran
dengan
apa yang dia lihat sebelumnya, dia pun memanggil Bejo lalu
bertanya “Bejo,
tadi saya sewaktu tukang cukur menawarkan uang lembaran Rp 1000 dan Rp
500-an, saya lihat kok yang kamu ambil, uang yang Rp 500, kenapa tidak
ambil yang Rp 1000, nilainya kan lebih besar dan dua kali lipat dari
yang
Rp 500.

Si bejo kemudian melihat dan memandang wajah sang pengusaha, ia agak
ragu-ragu untuk mengatakannya. “Ayo beritahu saya, kenapa kamu ambil
yang
Rp 500,” desak sang pengusaha. Akhirnya si Bejo pun berkata, “Kalau
saya
ambil yang Rp 1000, berarti permainannya akan selesai…………”

Seringkali kita terkecoh saat menghadapi suatu masalah, dan walaupun
masalah tersebut terpecahkan, tetapi pemecahan yang ada bukanlah suatu
pemecahan yang efisien dan justru malah terlalu rumit.

Kasus 1

Salah satu dari kasus yang ada adalah kasus kotak sabun yang kosong,
yang terjadi di salah satu perusahaan kosmetik yang terbesar di
Jepang. Perusahaan tersebut menerima keluhan dari pelanggan yang
mengatakan bahwa ia telah membeli kotak sabun (terbuat dari bahan
kertas) kosong. Dengan segera pimpinan perusahaan menceritakan masalah
tersebut ke bagian pengepakan yang bertugas untuk memindahkan semua
kotak sabun yang telah dipak ke departemen pengiriman. Karena suatu
alasan, ada satu kotak sabun yang terluput dan mencapai bagian
pengepakan dalam keadaan kosong.

Tim manajemen meminta para teknisi untuk memecahkan masalah tersebut.
Dengan segera, para teknisi bekerja keras untuk membuat sebuah mesin
sinar X dengan monitor resolusi tinggi yang dioperasikan oleh dua
orang untuk melihat semua kotak sabun yang melewati sinar tersebut dan
memastikan bahwa kotak tersebut tidak kosong. Tak diragukan lagi,
mereka bekerja keras dan cepat tetapi biaya yang dikeluarkan pun tidak
sedikit.

Tetapi saat ada seorang karyawan di sebuah perusahaan kecil dihadapkan
pada permasalahan yang sama, ia tidak berpikir tentang hal-hal yang
rumit, tetapi ia muncul dengan solusi yang berbeda. Ia membeli sebuah
kipas angin listrik untuk industri yang memiliki tenaga cukup besar
dan mengarahkannya ke garis pengepakan. Ia menyalakan kipas angin
tersebut, dan setiap ada kotak sabun yang melewati kipas angin
tersebut, kipas tersebut meniup kotak sabun yang kosong keluar dari
jalur pengepakan, karena kotak sabun terbuat dari bahan kertas yang
ringan.

Kasus 2

Pada saat NASA mulai mengirimkan astronot ke luar angkasa, mereka
menemukan bahwa pulpen mereka tidak bisa berfungsi di gravitasi nol,
karena tinta pulpen tersebut tidak dapat mengalir ke mata pena. Untuk
memecahkan masalah tersebut, mereka menghabiskan waktu satu dekade dan
12 juta dolar. Mereka mengembangkan sebuah pulpen yang dapat berfungsi
pada keadaan-keadaan seperti gravitasi nol, terbalik, dalam air, dalam
berbagai permukaan termasuk kristal dan dalam derajat temperatur mulai
dari di bawah titik beku sampai lebih dari 300 derajat Celcius.

Dan apakah yang dilakukan para orang Rusia? Mereka menggunakan pensil!

Kasus 3

Suatu hari, pemilik apartemen menerima komplain dari pelanggannya.
Para pelanggan mulai merasa waktu tunggu mereka di pintu lift terasa
lama seiring bertambahnya penghuni di apartemen itu. Dia (pemilik)
mengundang sejumlah pakar untuk memecahkan masalah ini. Satu pakar
menyarankan agar menambah jumlah lift. Tentu, dengan bertambahnya
lift, waktu tunggu jadi berkurang. Pakar lain meminta pemilik untuk
mengganti lift yang lebih cepat, dengan asumsi, semakin cepat orang
terlayani. Kedua saran tadi tentu memerlukan biaya yang tidak sedikit.

Tetapi, satu pakar lain hanya menyarankan satu hal, “Inti dari keluhan
pelanggan anda adalah mereka merasa lama menunggu”. Pakar tadi hanya
menyarankan untuk menginvestasikan kaca cermin di depan lift, agar
pelanggan teralihkan perhatiannya dari pekerjaan “menunggu” dan merasa
“tidak menunggu lift”.

Moral cerita ini adalah sebuah filosofi yang disebut KISS (Keep It
Simple Stupid), yaitu selalu mencari solusi yang sederhana, sehingga
bahkan orang bodoh sekalipun dapat melakukannya. Cobalah menyusun
solusi yang paling sederhana dan memungkinkan untuk memecahkan masalah
yang ada. Maka dari itu, kita harus belajar untuk fokus pada solusi
daripada pada berfokus pada masalah.

Antara Kopi dan Cangkir

Sekelompok alumni sebuah universitas mengadakan reuni di rumah salah
seorang professor favorit mereka yang dianggap paling bijak dan layak
didengarkan. Satu jam pertama, seperti umumnya diskusi di acara reuni,
diisi dengan menceritakan (baca : membanggakan) prestasi di tempat
kerja masing-masing. Adu prestasi, adu posisi dan adu gengsi, tentunya
pada akhirnya bermuara pada $ yang mereka punya dan kelola, mewarnai
acara kangen-kangenan ini.

Jam kedua mulai muncul guratan dahi yang menampilkan keadaan
sebenarnya. Hampir semua yang hadir sedang stres karena sebenarnya
pekerjaan, prestasi, kondisi ekonomi, keluarga dan situasi hati mereka
tak secerah apa yang mereka miliki dan duduki. Bahwa dollar mengalir
deras, adalah sebuah fakta yang terlihat dengan jelas dari mobil yang
mereka kendarai serta merk baju dan jam tangan yang mereka pakai.
Namun di lain pihak, mereka sebenarnya sedang dirundung masalah berat,
yakni kehilangan makna hidup. Di satu sisi mereka sukses meraih
kekayaan, di sisi lain mereka miskin dalam menikmati hidup dan
kehidupan itu sendiri. They have money but not life.

Sang profesor mendengarkan celotehan mereka sambil menyiapkan seteko
kopi hangat dan seperangkat cangkir. Ada yang terbuat dari kristal
yang mahal, ada yang dari keramik asli Cina oleh-oleh salah seorang
dari mereka, dan ada pula gelas plastik murahan untuk perlangkapann
perkemahan sederhana. “Serve yourself,” kata profesor, memecah
kegerahan suasana. Semua mengambil cangkir dan kopi tanpa menyadari
bahwa sang profesor sedang melakukan kajian akademik pengamatan
perilaku, seperti layaknya seorang profesor yang senantiasa memiliki
arti dan makna dalam setiap tindakannya.

“Jika engkau perhatikan, kalian semua mengambil cangkir yang paling
mahal dan indah. Yang tertinggal hanya yang tampaknya kurang bagus dan
murahan. Mengambil yang terbaik dan menyisakan yang kurang baik adalah
sangat normal dan wajar. Namun, tahukah kalian bahwa inilah yang
menyebabkan kalian stres dan tidak dapat menikmati hidup?” sang
profesor memulai wejangannya. “Now consider this : life is the coffee,
and the jobs, money and position in society are the cups. They are
just tools to hold and contain life, and do not change the quality of
life. Sometimes, by concentrating only on the cup, we fail to enjoy
the coffee provided,” kali ini kalimatnya mulai menekan hati. “So,
don’t let the cups drive you, enjoy the coffee instead,” demikian ia
berkata sambil mempersilakan mereka menikmati kopi bersama.

Sewaktu membaca email yang dikirim rekan saya Ucup, begitu panggilan
akrabnya, saya ikut tertegun. Sesederhana itu rupanya. Profesor yang
bijak selalu membuat yang sulit jadi mudah, sedangkan politikus selalu
membuat yang mudah jadi sulit. Betapa banyak diantara kita yang salah
mensiasati hidup ini dengan memutarbalikkan kopi dan cangkir. Tak
jelas apa yang ingin kita nikmati, kopi yang enak atau cangkir yang
cantik.

Ada tiga tipe pekerja (baca :profesional dan penngusaha) yang sering
kita lihat dalam mensiasati kopi dan cangkir kehidupann ini. Pertama,
pekerja yang sibuk mengejar pekerjaan, jabatan yang akkhirnya hanya
bertumpu pada kepemilikan jumlah dan kualitas cangkir kehidupan.
Paradigmanya sanngat sederhana, semakin banyak cangkir yang dipunyai,
semakin bercahaya. Semakin bagus cangkir yang dimiliki akan merubah
rasa kopi menjadi enak. Fokus hidup hanya untuk menghasilkan kualitas
dan kuantitas cangkir.

Ini yang menyebabkan terus terjadinya persaingan untuk menambah
kepemilikan. Sukses diukur dengan seberapa banyak dan seberapa bagus
apa yang dimiliki. Kala yang lain bisa membeli mobil mewah, ia pun
terpacu mendapatkannya. Alhasil, tingkat stres menjadi sangat tinggi
dan tak ada waktu untuk membenahi kopi. Semua upaya hanya untuk bagian
luar, sedangkan bagian dalam semakin ketinggalan.

Kedua, pekerja yang menyadari bahwa kopinya ternyata pahit – artinya
hidup yang terasa hambar; penuh kepahitan, dengki dan dendam; serta
tak ada damai dan kebahagiaan – mencoba menutupnya dengan
menyajikannya dalam cangkir yang lebih mahal lagi. Pikirannya juga
sangat mudah, kopi yang tidak enak akan berkurang rasa tidak enaknya
dengan cangkir yang mahal. Rasa kurang dicintai rekan kerja,
dikompensasi dengan mengadopsi anak asuh dan angkat. Tak merasa
diperhatikan, dibungkus dengan memberikan perhatian pada korban gempa
di Yogyakarta. Tak menghiraukan lingkungan hidup, ditutup halus dengan
program environmental development yang harus diresmikan pejabat
Kementerian Lingkungan Hidup. Tak memperhatikan orang lain dengan
tulus, dibalut dengan program community development yang wah. Kalau
tidak hati-hati, akan muncul pengusaha kaum Farisi yang munafik bagai
kubur bersih, tapi di dalamnya sebenarnya tulang tengkorak yang jelek
dan bau.

Ketiga, ada pula pekerja yang berkonsentrasi membenahi kopinya agar
lebih enak, semakin enak dan menjadi sangat enak. Tipe ini tidak
terlalu pusing dengan penampilan cangkir. Pakaian mahal dan eksklusif
tidak mampu membuat borok jadi sembuh. Makanan yang mahal tidak selalu
membuat tubuh jadi sehat, malah yang terjadi acap sebaliknya. Fokus
pada kehidupan dan hidup menyebabkan dia dapat santai menghadapi
hari-hari yang keras. Ia tak mau berkompromi dengan pekerjaan yang
merusak martabat, sikap dan kebiasaan. Menyuap yang terus menerus
dilakukan hanya akan membuat dirinya tak mudah bersalah kala disuap.
Fokus pada kopi yang enak, membuat ia tak mudah menyerah pada tuntutan
pekerjaan, tekanan target penjualan yang mengontaminasi karakternya.
Baginya, ini adalah kebodohan yang tak pernah dapat dipulihkan.

Profesor hidup lain pernah berpetuah, “Take no thought for your life,
what you shall eat or drink, nor your body what you shall put on. Is
not the life more that meat and the body than raiment?” Kalau kita
tidak sadar, kita bakal terjerembap : mengkhawatirkann cangkir padahal
seharusnya kita fokus pada kopi.

Enjoy your coffee, my friend!